rangkuman vehiculum

Kompres terbuka

è Efek

  • Membersihkan dari debris (pus,krusta,dll)
  • Basahàkering
  • Permukaan jadi bersih
  • Terjadi re-epitelisasi
  • Menghilangkan gatal (pruritus), rasa terbakar, dll
  • Tidak eksudatif lagi
  • Mendinginkan
  • Vasokontriksi  (anti-inflamasi)
  • Eritema berkurang

è Bahan aktif

  • Astringen
  • Antimikrobial

è Indikasi

  • Mandidans/basah
  • Eritema
  • Ulkus kotor dgn pus dan krusta

è Kontra indikasi

  • Lesi kering

Bedak

è Efek

  • Mendinginkan
  • Sedikit vasokontriksi
  • Antipruritus lemah
  • Mengurangi pergeseran kulit yg berlipat (intertrigo)
  • Proteksi mekanis

è Bahan aktif

  • Talkum venetum

è Indikasi

  • Kering
  • Superficial
  • Mempertahankan vesikel/bula (varisela dan herpes zooster)

è Kontra indikasi

  • Mandidans
  • Infeksi sekunder

Salap

è Efek

  • Penetrasi paling dalam

è Bahan aktif

  • Vaselin

è Indikasi

  • Kering
  • Dalam
  • Bersisik
  • Berkrusta

è Kontraindikasi

  • Mandidans
  • Berambut
  • Area luas

Bedak kocok

è Efek

è Bahan aktif

  • Air+ bedak+ gliserin(bahan perekat)

è Indikasi

  • Kering
  • Superficial
  • Area luas
  • Subakut

è Kontraindikasi

  • Mandidans
  • Berambut

Krim

è Efek

è Bahan aktif

  • Air+ minyak+ emulgator (bahan pengawet (paraben) dan parfum)

è Indikasi

  • Kosmetik
  • Subakut
  • Area luas
  • Dalam
  • Berambut

è Kontra indikasi

  • Mandidans

Pasta

è Efek

  • Protektif
  • mengeringkan

è Bahan aktif

  • Bedak+ vaselin(salap)

è Indikasi

  • Agak mandidans

è Kontra indikasi

  • Eksudatif
  • Berambut
  • Genital

Linimen (pasta pendingin)

è Efek

è Bahan aktif

  • Campuran cairan+ bedak+ salap

è Indikasi

  • Subakut

è Kontra indikasi

  • Mandidans

Gel

è Efek

  • Aborbsi baik

è Bahan aktif

  • Karbomer
  • Multiselulosa
  • Tragakan

è Indikasi

è Kontra indikasi

 

 

Mycosis

Superficial mycoses

Pityriasis versicolor (tinea versicolor)

Etiologi

pityriasis versicolor atau tinea versicolor adalah kelainan kulit yang umum, jinak, infeksi jamur superfisial yang biasanya ditandai dengan  makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi di dada dan punggung. Pada pasien dengan predisposisi tinea versicolor bisa terkena penyakit ini berkali-kali. Infeksinya hanya di daerah stratum korneum.

Gejala

Ada 4 bentuk yang dapat muncul akibat dari tinea versicolor:

è Tinea versicolor – bentuk 1

  • Tampilan umum dari bentuk ini adalah multiple, sirkumskrip, bersisik, oval sampai lingkaran makula yang tersebar di dada, terkadang juga sampai abdomen bagian bawah, leher, dan ekstremitas proximal.
  • Makula tidak menyatu, membentuk bercak dengan perubahan warna pigmen yang tidak beraturan. Nama versicolor menyatakan warnanya yang bermacam-macam.  Makulanya bisa jadi lebih gelap atau lebih terang dari daerah disekitarnya.
  • Kerokan tipis pada makula dengan pisau scapel akan didapat keratin akan didapat keratin yang berlebihan jumlahnya terangkat.

è Tinea versicolor – bentuk 2

  • Bentuk lain dari tinea versicolor adalah dengan distribusi yang sama sekali berbeda, pada daerah lipatan, wajah, dan ekstremitas. Bentuk tinea versicolor ini lebih sering terlihat pada orang dengan immunocompromised.
  • Bentuk ini sulit dibedakan dengan infeksi lain seperti candidiasis, seborrheic dermatitis, psoriasis, erythrasma, dan infeksi dermatofita

è Tinea versicolor – bentuk 3

  • Bentuk ketiga ini melibatkan folikel rambut. Biasanya terdapat di punggung, dada, atau kaki.
  • Bentuk ini sulit dibedakan dengan infeksi bakteri  folikulitis
  • Bentuk ini lebih sering terlihat pada orang dengan diabetes, kelembapan tinggi, terapi steroid atau antibiotika, dan terapi immunosuppresant

è Tinea versicolor – bentuk 4

  • Bentuk klinis ini adalah papul multiple, 2-3 mm, monomorfik, berwarna merah sampai coklat. Pada lesi juga ada kemungkinan terdapat skuama putih.
  • Lesi biasanya ditemukan di torso dan asimtomatik
  • Secara histologis, ruam nya tidak hanya menunjukkan hifa dan spora pada stratum korneum, tetapi juga ada ciri yang mirip dengan dermatitis pada bagian dermis superfisialnya

Patofisiologi

Tinea versicolor disebabkan oleh adanya infeksi dari organisme dimorphic, lipoflik, dengan genus Malassezia, formalnya dikenal dengan nama Pityrosporum. Delapan spesies dikategorikan dalam klasifikasi ini, yang dimana Mlassezia globosa dan Malassezia furfur adalah spesies yang utama ditemukan pada tinea versicolor. Malassezia sangat sulit dikultur dalam laboratorium dan hanya dapat dikultur di media yang kaya asam lemak C12-C14. Malassezia normalnya dapat ditemukan di semua kulit binatang, termasuk manusia. Jamur ini dapat diisolasi pada bayi 18% dan pada orang dewasa 90-100%.

Organisme ini dapat ditemukan disemua kulit yang sehat sampai dengan penyakit kulit. Pada pasien dengan penyakit kulit, organisme ini ditemukan dengan dalam bentuk yeast dan filamen. Faktor yang menyebabkan perubahan dari dulunya saprofita menjadi parasitik, karena adanya genetis, temperatur hangat, lembap, immunosuppresion, malnutrisi, dan penyakit cushing. Peptida manusia LL-37 berperan dalam mempertahankan kulit dari infeksi jamur ini.

Meskipun malassezia termasuk dalam flora normal kulit tetapi bisa ada kemungkinan menjadi patogen. Organisme ini juga dapat menjadi faktor pendukung penyakitkulit lain seperti pityrosporum folliculitis, konfluens dan reticulate papilomatosis, seborrheic dermatitis, dan beberapa bentuk dermatitis atopik.

Faktor

Faktor yang membuat orang cenderung terkena tinea versicolor adalah:

è Hamil

è Malnutrisi

è Luka bakar

è Terapi steroid

è Supressed imune system

è Kontrasepsi

è Suhu panas

è kelembapan

Diagnosis

Tinea versicolor mempunyai penampakan klinis yang khas sehingga diagnosis biasanya dapat di tegakan tanpa melakukan pemeriksaan laboratorium

è Cahaya wood dapat digunakan untuk melihat warna tinea versicolor yang berwarna tembaga-oranye. Namun dalam beberapa kasus lesi tampak lebih gelap dari pada sekitarnya meskipun tidak berpendar

è Diagnosis dapat diperkuat dengan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH), yang ditemukan adalah spora dengan mycelium pendek seperti spageti dan bakso sebagai tanda adanya tinea versicolor. Untuk visualisasi yang lebih baik dapat digunakan pewarnaan blue stain, parker ink, methylene blue stain, atau swartz-medrik stain pada preparat KOH. Pewarnaan kontras dengan 1% chicago sky blue 6B dan 8%KOH akan didapat sensitivitas dan spesivisitas terbaik.

è Beberapa media membutuhkan adanya kultur, meskipun kultur sulit untuk didapatkan.

Tata laksana

Pasien harus diberi tahu bahwa tinea versicolor disebabkan oleh jamur yang normal ada di kulit manusia dan tidak termasuk penyakit menular. Kulit yang terkena tidak akan menimbulkan bekas atau  perubahan pigmen yang permanen dan perubahan warna kulit akan kembali keawal setelah 1-2 bulan setelah pengobatan.

Tinea versicolor dapat diobati dengan berbagai macam obat. Obat topikal yang efektif adalah selenium sulfide, sodium sulfacetamide, ciclopiroxolamine, azole, dan alollamine antifungal. Terapi oral juga efektif untuk mengobati tinea versicolor dan biasanya dipilih pasien karena mudah dan tidak merepotkan. Obat oral tersebut adalah ketoconazole, fluconazole, dan itraconazole. Obat oral  tidak menyembuhkan tinea versicolor dengan terlalu baik dan harus diulang beberapa kali dalam setahun. Karena tinea versicolor jinak dan obat oral mempunyai efek samping, tentunya pilihan untuk memakai obat oral harus dibuat setelah menjelaskan dan memahami efek sampingnya.

Penyembuhan tinea versicolor  juga bisa digunakan asam 5-aminolevulinic pada terapi photodynamic.

 

Candidiasis

Etiologi

Jamur Candida adalah termasuk flora normal dan juga patogen. Penyebaran infeksi candida bermacam-macam bisa hanya di membran mukosa lokal sampai tersebar luas. Candidiasis parah tipikalnya berhubungan dengan status immunocompromised pasien, termasuk yang rentan terhadap patogen iatrogenic di Intensive Care Unit (ICU), atau pasien yang kondisi imunologisnya terganggu akibat dari keganasan, disfungsi organ, atau terapi immunosuppresive.

Gejala

Tanda dan gejala dari infeksi candida dapat bervariasi tergantung dari lokasi infeksinya.

è Pada wanita

  • Tandanya adalah bercak putih, tebal, seperti bentuk keju. Infeksinya biasanya gatal , mengiritasi vagina, dan juga jaringan disekitarnya. Juga ada sakit saat berhubungan seksual dan buang air kecil.

è Pada bayi dan dewasa

  • Candidiasis oral biasa disebut dengan sariawan. Bercak putih dan tebal pada lapisan gusi juga bisa di lidah, atau tempat lainnya di mulut. Jika plak putih itu dikerok dengan pisau atau kapas jaringan dibawahnya dapat berdarah karenannya. Sariawan ini bisa jadi menyakitkan dan membuat susah makan.
  • Candida merupakan flora normal kulit tetapi menembus lapisan luar kulit dapat menyebabkan candida tumbuh dengan cepat, hal ini biasanya terjadi di area yang hangat dan lembap seperti pada area popok bayi dan lipatan kulit. Infeksi candida superfisial kulit memiliki ruam yang datar, merah, dan dikelilingi oleh papul-papul. Biasanya lesi yang lebih kecil akan ada di sekitarnya oleh karenanya disebut ‘lesi satelit’. Ruam ini bisa jadi gatal dan sakit.

è Pada orang dengan sistem imun lemah

  • Infeksi candida dapat menyebar ke berbagai organ sampai menyebabkan disfungsi organ. Orang dengan sistem imun lemah karena AIDS, kemoterapi, atau kondisi lainnya dapat memicu infeksi jamur yang disebut esophagitis pada sistem gastrointestinal bagian atas. Infeksi ini hampir sama dengan sariawan tetapi tempatnya ada di esofagus. Candida esophagitis dapat menyebabkan sakit maag yang membuat sangat sakit untuk menelan sesuatu termasuk minuman. Jika infeksi ini menyebar sampai lambung maka akibatnya makanan akan diserap dengan buruk. Orang dengan kondisi ini dikhawatirkan terkena dehidrasi. Efek lain yang muncul akan ada sakit dibagian sternum, abdomen atas,  mual, dan muntah

è Apabila candida masuk ke aliran darah

  • Orang tersebut bisa jadi akan demam. Apabila penyebarannya sampai ke otak akan berdampak pada perubahan mental.

Patofisiologi

Candida adalah jamur uniselular dengan reproduksinya adalah dengan bertunas. Organisme ini dapat berkembang dengan baik di berbagai lingkungan. Kolonisasi utamannya biasanya di oropharynx, kulit, membran mukosa, pernapasan, dan jalur gastrointestinal dan genitourinary. Patogenesis muncul dengan bertambahnya kolonisasi, seperti yang terjadi pada penggunaan agen antimikrobial sistemik, menembus mukosa normal dan barier kulit, sehingga menyebabkan trauma atau kerusakan jaringan akibat dari kemoterapi atau radiasi.

Candidiasis adalah jamur yang umum mempunyai kemungkinan menimbulkan infeksi. Manifestasi penyakit akibat dari candida bermacam-macam. Limfosit dan sel imun berperan penting dalam mencegah terjadinya mucosal candidiasis. Oleh karena itu, pasien dengan defisiensi sel T, seperti Human Immunodeficiency Virus (HIV), memiliki kecenderungan untuk terkena mucosal candidiasis berulang-ulang. Pasien dengan neutropenia beresiko terinfeksi invasive candidiasis dan candidemia, karena fungsi dari monosit dan sel polymorfonuklear adalah membunuh pseudohypa dan blastosphores. Komplemen dan imunoglobulin juga dapat membunuh organisme yang ada di intrasellular, karena itu pasien dengan defisiensi akan mempunyai infeksi candida yang lebih rumit lagi.

Faktor

Faktor-faktor yang bisa mempengaruhi perubahan candida:

è Defisiensi respon imun

è Antibiotik keras

è Terapi steroid

è Diabetes mellitus

è Hamil

è Higienitas

è Kontrasepsi

Diagnosis

Pada orang yang sehat dokter dapat menegakkan diagnosisnya hanya dengan melihat lesinya, tetapi apabila penyebaran candida sudah terlalu luas maka dibutuhkan pengujian yang lebih khusus.

è Vaginal yeast infection adalah dengan melakukan tes gynecology. Tes ini pertama membuka vagina dengan alat khusus. Tesnya tidak nyaman karena adanya menekan jaringan. Lalu swab jamurnya yang terlihat. Setelahnya swab campur dengan tetesan potassium hydroxide dan taruh pada preparat. Setelah dilihat di mikroskop akan terlihat jamur dengan penampakan pola yang bercabang-cabang.

è Dokter juga memasukkan dua jarinya kedalam vagina dan menekan bagian uterus, ovarium, dan area sekitar untuk mengecek apakah ada yang kasar atau masalah lainnya. Sebelum pemeriksaan pasien tidak boleh melakukan hubungan seksual 1-2 hari sebelum pemeriksaan karena membuat diagnosis menjadi lebih sulit.

Pada anak atau orang dewasa, pemeriksaan pada mulut dan kulit sudah dapat menentukan diagnosis candidiasis. Tetapi apabila tidak terlalu jelas, dokter dapat mengerok kecil area itu, yang nantinya akan di letakkan di preparat dengan campuran potassium hydroxide dan melihat pola percabangan dari jamur ini.

Orang dengan immunodefisiensi, selain juga sama dengan sebelumnya juga perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti darah dan urin. Apabila CT scan dan MRI menyatakan adanya candidiasis di otak maka dibutuhkan biopsi untuk membedakan antara infeksi candida atau penyebab lain.

Tata laksana

Biasanya infeksi candida daat dilakukan secara individual dan dapat hilang sekitar 1 minggu setelah pengobatan. Tetapi apabila terdapat penyakit yang dapat melemahkan sistim imun maka harus dilihat gejala yang lainnya karena dapat beresiko terkena infeksi.

Infeksi pada vagina dapat ditatalaksanakan sendiri dengan menggunakan obat sebagai berikut:

è  Miconazole (Micon 7, Monistat 3, Monistat 5, Monistat 7, M-Zole Dual Pack)

è  Tioconazole (Monistat-1, Vagistat-1)

è  Butoconazole (Gynazole 1)

è  Clotrimazole (Femcare, Gyne-Lotrimin, Mycelex-G)

Oleskan pada vagina dan jaringan disekitarnya selama 1-7 hari. Bila terdapat iritasi maka pengobatannya dapat dihentikan. Apabila gejalanya tidak hilang setelah satu minggu dapat dikonsultasikan lebih lanjut.

Apabila berberntuk sariawan pada mukosa mulut bisa digunakan nystatin (bio-statin, Mycostatin, Mycostatin pastiles, Nilstat) oleskan disekitar mulut. Wanita yang sedang menyusui juga patut diwaspadai adanya infeksi candida pada puting susu.

Ruam dikulit dapat digunakan Clotrimazole (Myelex Troche) krim dan lotion dapat dioleskan pada lesi di superficial kulit.

Cutaneous mycoses

Dermatofita

Etiologi

Infeksi dermatophyte dapat ditimbulkan dari banyak sumber dan disebarkan oleh athrospores (spora yang berasal dari perusakan hifanya). Spesies dari dermatofita ini dapat dibagi menjadi anthropophilic, zoophilic, atau geophilic tergantung dari asal penyebarannya. Penyebaran pada tubuh manusia juga tidak merata dan respon yang ditimbulkan akibat infeksinya pun berbeda-beda.

Dermatofita jenis anthropophilic adalah yang paling umum menimbulkan infeksi pada manusia. Infeksi zoophilic yang umum diwilayah tropis adalah tricophyton verrucosum dari hewan ternak, trichophyton mentagrophytes dari hewan pengerat, dan microsporum dari kucing dan anjing. Infeksi geophilic seperti microsporum gypseum jarang mnginfeksi manusia tetapi berbeda jika manusia yang terekspos berlebihan seperti petani dan pekerja kebun. Zoophilic dan geophilic dapat menyebabkan inflamasi yang lebih berat dari pada anthropophilic.

 

Gejala

Lesi yang muncul dapat berupa lesi annular atau serpentine dengan margin yang menonjol. Gejala yang utama adalah gatal tetapi bervariasi tingkatannya. Kulit bisa menjadi kering, bersisik dan berkerak, apabila infeksi terjadi pada rambut akan menyebabkan rambut rontok. Inflamasi yang timbul bervariasi pada tiap individu, juga kerentanannya terkena inveksi. Pada beberapa kasus, fungal antigen yang muncul memicu respon immunologis yang akhirnya memediasi terjadinya reaksi hipersensitivitas pada kulit (eritema atau vesikel) biasa disebut reaksi dermatophytid. Adalah ketika kulit menjadi berkerak dan bernanah, cenderung muncul superinfeksi dengan organisme  lain seperti bakteri gram negatf.

Patofisiologi

Dermatofita adalah organisme yang suka terhadap keratin juga pada struktur yang terkeratinisasi (kulit, rambut, dan kuku). Sporanya akan melekat pada keratinosit, tumbuh, lalu menginvasi. Kata latin ‘tinea’ atau ‘ringworm’ biasa digunakan untuk menyebut infeksi ini karena manifestasi yang ditimbulkan akan muncul worm-like parasite. Tinea kapitis menginfeksi rambut dan kulit kepala, tinea korporis menginfeksi badan, tinea cruris menginfeksi selangkangan, tinea manuum menginfeksi tangan, tinea unguium menginfeksi kuku, sedangkan tinea pedis menginfeksi bagian kaki.

Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, dermatofita menginvasi jaringan subcutaneous, menimbulkan granuloma, lymphedema, dan draining sinus. Apabila inveksinya sampai ke liver dan otak bisa berakibat fatal.

Diagnosis

Mayoritas dari dermatitis akan memancarkan cahaya ketika terekspos sinar ultraviolet, oleh karenanya ini bisa dijadikan cara untuk mendiagnosisnya. Pemeriksaan laboratorium yang mungkin dilakukan adalah dengan melihat hifanya melalui mikroskop dan kultur dari kerokan pada daerah lesinya. Dermatofita pada rambut mempunyai ciri khusus, apabila terkena jenis microsporum maka akan jadi membentuk artherospores diluar dari batang rambut, sedangkan apabila jenisnya trichophyton maka bentuk artherospores akan ada diantara batang rambut. Tetapi tetap identifikasi yang utama adalah dari penampakan mikroskopik fungi setelah dikultur selama 2 minggu.

Tata laksana

Pengobatan dermatofita lebih disarankan topikal, tetapi apabila infeksinya ada di rambut dan kuku lebih baik diberi obat oral. Respon dari obat berbeda-beda pada tempat infeksinya, seperti infeksi pada kulit kepala akan mereda setelah 6-12 minggu, infeksi pada kuku tangan akan mereda setelah lebih dari 6 bulan, dan pada kuku kaki akan mereda setelah 1 tahun atau lebih pemakaian obat. Lebih disarankan untuk tidak menggunakan pengobatan kecuali ada nyeri atau penyebaran yang luas.

 

Daftar pustaka

1. Mims, Cedric. 2004. Medical Microbiology. Fungal infection of the skin. Pg359-363. Mosby: spanyol

2. Bannister, Barbara. 2006. Infection microbiology and management. Infection with skin, mucosal, and soft-tissue disorders.pg109-114. Blackwell: london

3. Conrad, Melissa. eMedicine. Candidiasis. Online: http://www.emedicinehealth.com/candidiasis_yeast_infection/article_em.htm . [10nov’10; 21:40]

4. Hedayati, Tarlan. 2010. eMedicine. Candidiasis: treatment and  Medication. Online: http://emedicine.medscape.com/article/781215-treatment . [10nov’10; 21:40]

5. Craig G Burkhart. 2010. eMedicine. Tinea Versicolor. Online: http://emedicine.medscape.com/article/1091575-overview . [10nov’10; 21:40]

6. Brannon, Heather. 2004. About.com. Tinea Versicolor. Online: http://dermatology.about.com/od/fungalinfections/a/tineavers.htm . [10nov’10; 21:40]

Hipersensitivitas tipe I dan IV

Hipersensitivitas adalah reaksi yang terjadi akibat terpajan antigen yang berulang  yang menyebabkan memicu reaksi patologi. Ada beberapa ciri-ciri yang umum pada hipersensitivitas yaitu antigen dari eksogen atau endogen dapat memicu reaksi hipersensitivitas, penyakit hipersensitivitas biasanya berhubungan dengan  gen yang dimiliki setiap orang, reaksi hipersensitivitas mencerminkan tidak kompaknya antara mekanisme afektor dari respon imun dan mekanisme kontrolnya.

Hipersensitivitas dapat diklasifikasikan atas dasar mekanisme imunologis yang memediasi penyakitnya. Klasifikasi ini juga membedakan antara respon imun yang menyebabkan luka jaringan atau penyakit, patologinya, dan juga manifestasi klinisnya. Tipe-tipe klasifikasi hipersensitivitas adalah:

  • Hipersensitivitas immediate (tipe I) respon imun dimediasi oleh sel TH2, antibodi IgE, dan sel mast; yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator inflamasi.
  • Hipersensitivitas antibody-mediated (tipe II) antibodi IgG dan IgM dapat menginduksi inflamasi dengan mempromosikan fagositosis atau lisis terhadap luka pada sel. Antibodi juga mempengaruhi fungsi selular dan menyebabkan penyakit tanpatanpa ada luka jaringan.
  • Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III) antibodi IgG dan IgM mengikat antigen yang biasanya ada di sirkulasi darah, dan kompleks antibodi-antigen mengendap di jaringan yang pada akhirnya akan menginduksi proses inflamasi.
  • Hipersensitivitas cell-mediated (tipe IV) luka seluler dan jaringan akan menyebabkan tersintesisnya sel limfosit T (TH1, TH2, dan CTLs). Sel TH2 menginduksi lesi yang termasuk kedalam hipersensitivitas  tipe I, tidak termasuk hipersensitivitas tipe IV.

 

Yang akan dibahas disini hanyalah hipersensitivitas tipe I dan IV

Hipersensitivitas Immediate (tipe I)

Hipersensitivitas ini adalah reaksi imunologis cepat yang terjadi hanya setelah satu menit kombinasi antigen dan antibodi terikat oleh sel mast. Reaksi ini biasa disebut dengan alergi, dan antigen yang memicunya disebut dengan alergen. Hipersensitivitas immediate dapat terjadi sebagai kelainan sistemik atau sebagai reaksi lokal. Biasanya, selama beberapa menit pasien akan shok yang dapat berakibat fatal. Reaksi lokal berbeda-beda dan bermacam-macam tergantung bagaimana masuknya alergen tersebut, contohnya bisa jadi localized cutaneous sweeling (alergi kulit), hay fever, asma, atau allergic gasteroentritis (alergi makanan). Banyak cepat yang terjadi mempunya ciri utama yaitu vasodilaatasi, vascular leakage, dan tergantung dari lokasinya. Perubahan yang terjadi biasanya akan menjadi jelas sekitar 5-30 menit setelah terekspos antigen, dan akan mereda setelah 60 menit, reaksi kedua fase lambat akan terjadi 2-24 jam setelahnya tanpa harus terekspos oleh antigen dan akan berakhir setelah beberapa hari. Reaksi fase lambat ini bercirikan adanya infiltrasi jaringan dari eosinofil, neutrofil, basofil, monosit, dan sel T CD4+ yang mengakiatkan kerusakan jaringan.

Kebanyakan reaksi hipersensitivitas ini dimediasi oleh antibodi IgE, aktivasi dari sel mast, dan leukosit lainnya. Sel mast adalah derivat dari sumsum tulang blakang yang terdistribusikan secara luas di jaringan. Sel mast terkumpul banyak di dekat pembuluh darah, saraf, dan subephitelial tissue; yang memperjelas bahwa reaksi hipersensitivitas biasa terjadidi daerah-daerah ini. Sel mast memiliki granula sitoplasmic yang berisikan berbagai macam mediator aktif. Sel mast dapat teraktivasi oleh ikatan silang dari IgE Fc receptor yang mempunya afinitas tinggi; sel mast juga dapat teraktivasi oleh komplemen seperti C5a dan C3a (disebut sebagai anaphylatoxin karena dapat menimbulkan reaksi seperti anaphylaxis), reaksinya dengan mengikat pada reseptor di membran sel mast. Basofil hampir sama dengan sel mast dilihat dari reseptor dan granula sitoplasmiknya. Bedanya dengan sel mast adalah basofil tersebar di sirkulasi darah. Reaksi yang diperankan oleh basofil dari hipersensitivitas ini masih belum diketahui jelas yang pasti basofil akan tertarik ke daerah inflamasi akibat dari granulasi sel mast.

Sel TH2 memiliki peran utama dalam menginisiasi reaksi hipersensitivitas immediate ini dengan menstimulasi produksi IgE dan mempromosikan inflmasi. Sel TH2 muncul karena adanya presentasi dari antigen dengan sel T helper CD4+, mungkin oleh sel dentritik yang menangkap antigen dari tempat awal masuknya. Respon yang ditimbulkan akibat dari antigen dan stimuli lain, termasuk sitokin (IL4), sel T akan berdiferensiasi menjadi sel TH2. Sel TH2 akan memproduksi sitokin dalam jumlah besar (IL4, IL5, dan IL13). IL4 akan bereaksi terhadap sel B untuk menstimulasi produksi dari IgE dan mempromosikan lebih banyak lagi sel TH2. IL5 akan terlibat dalam perkembangan dan pengaktivasian eosinofil, yang merupakan efektor penting dalam hipersensitivitas ini. Efek dari IL13 adalah meningkatkan produksi IgE dan menstimulasi produksi mukus pada sel epitel. Sel TH2 juga memproduksi kemokin yang dapat menarik sel TH2 lebih banyak dan leukosit lain kedalam situs reaksinya.

Sel mast dan basofil memiliki reseptor dengan afinitas tinggi yang disebut FceRI, yang speseifik terhadap IgE dan secara aktif berikattan dengan antibodi IgE. Pertamakali, antigen (alergen) akan berikatan dengan antibodi IgE, lalu IgE akan melekat pada sel mast. Ikatan IgE dengan reseptor Fce akan mengaktivasi sinyal transduksi ke sitoplasma sel mast. Sinyal ini akan menyebabkan sel mast berdegranulasi yang akan mengakibatkan pelepasan mediator aktif yang ada di granula sel mast. Mediator-mediator inilah yang bertanggung jawab terhadap munculnya gejala-gejala hipersensitivitas immediate ini, dan menyebabkan akan terjadinya reaksi fase-lambat dari hipersensitivitas ini.

Mediator yang terkandung dalam granula sel mast dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

Vasoactive amines

  • Contohnya histamine yang menyebabkan kontraksi otot polos, permeability vascular meningkat, dan sekresi mukus di hidung, bronkus, dan kelenjar lambung

Enzymes

  • Enzim-enzim hidrolase

Preteoglycans

  • Contohnya heparin yang mempunyai efek anti coagulant dan chondroitin sulfate

Ada juga mediator lipid yang teraktivasi, akibat dari reaksi membran sel mast akan mengaktivasi phospholipase A2, enzim yang bereaksi di membran sel mast dan akan menghasilkan asam arakidonat yang merupakan komponen utama dalam perubahan 5-lipoxygenes dan cyclooxygenase menjadi leukotrien dan prostaglandin.

Sel mast juga mengeluarkan sitokin yang berperan penting juga dalam hipersensitivitas ini. Sitokin (TNF, IL1, dan kemokin) akan memicu pengrekrutan leukosit (ciri dari reaksi fase-lambat), IL4, dan beberapa lagi yang lain.

Orang dengan atopik biasanya mempunya level IgE yang tinggi dan IL4 yg lebih banyak dibandingkan orang pada umumnya. Keluarga dengan tingkat alergi yang tinggi 50%nya adalah atopik. Meskipun belum ditemukan hubungan secara pasti, tetapi pasien dengan asma ditemukan mempunya perbedaan pada beberapa lokus di DNAnya. Gen itu adalah 5q31 dimana juga merupakan tempat pengkodean sitokin IL3, IL4, IL5, IL9, IL13

Kesimpulannya adalah hipersensitivitas immediate (tipe I) kelainan yg kompleks yang terjadi akibat mediasi IgE yang memicu sel mast dan akumulasi sel radang pada situs tersebut. Akumulasi ini terjadi karena adanya induksi dari sel TH2 yang menstimulasi produksi IgE (mengaktifkan sel mast), menyebabkan akumulasi sel radang, dan memicu sekresi mukus.

Hipersensitivitas T cell-mediated (tipe IV)

hipersensitivitas ini diinisiasi oleh antigen yang mengaktivasi limfosit T, termasuk sel T  CD4+ dan CD8+. Sel T CD4+ yang memediasi hipersensitivitas ini dapat mengakibatkan inflamasi kronis. Banyak penyakit autoimun yang diketahui terjadi akibat inflamasi kronis yang dimediasi oleh sel T CD4+ ini. Dalam beberapa penyakit autoimun sel T CD8+ juga terlibat tetapi apabila terjadi juga infeksi virus maka yang lebih dominan adalah sel T CD8+.

Reaksi inflamasi disebabkan oleh sel T CD4+ yang merupakan kategori hipersensitivitas reaksi lambat terhadap antigen eksogen. Reaksi imunologis yang sama juga terjadi akibat dari reaksi inflamasi kronis melawan jaringan sendiri. IL1 dan IL17 keduanya berkontribusi dalam terjadinya penyakit organ-spesifik yang dimana inflamasi merupakan aspek utama dalam patologisnya. Reaksi inflamasi yang berhubungan dengan sel TH1 akan didominasi oleh makrofag sedangkan yang berhubungan dengan sel TH17 akan didominasi oleh neutrofil.

Reaksi yang terjadi di hipersensitivitas ini dapat dibagi menjadi beberapa 2 tahap:

Proliferasi dan diferensiasi sel T CD4+ sel T CD4+ mengenali susunan peptida yang ditunjukkan oleh sel dendritik dan mensekresikan IL2 yang berfungsi sebagai autocrine growth factor untuk menstimulasi proliferasi antigen-responsive sel T. Perbedaan antara antigen-stimulated sel T dengan TH1 atau Th17 adalah terrlihat pada produksi sitokin oleh APC saat aktivasi sel T. APC (sel dendritik dan makrofag) terkadang akan memproduksi IL12 yang menginduksi diferensiasi sel T menjadi TH1. IFN-γ akan diproduksi oleh sel TH1 dalam perkembangannya. Jika APC memproduksi sitokin seperti IL1, IL6, dan IL23; yang akan berkolaborasi dengan membentuk TGF- β untuk menstimulasi diferensiasi sel T menjadi TH17. Beberapa dari diferensiasi sel ini akan masuk kedalam sirkulasi dan menetap di memory pool selama waktu yang lama.

Respon terhadap diferensiasi sel T efektor apabila terjadi pajanan antigen yang berulang akan mengaktivasi sel T akibat dari antigen yang dipresentasikan oleh APC. Sel TH1 akan mensekresikan sitokin (umumnya IFN-γ) yang bertanggung jawab dalam banyak manifestasi dari hipersensitivitas tipe ini. IFN-γ mengaktivasi makrofag yang akan memfagosit dan membunuh mikroorganisme yang telah ditandai sebelumnya. Mikroorganisme tersebut mengekspresikan molekul MHC II, yang memfasilitasi presentasi dari antigen tersebut. Makrofag juga mensekresikan TNF, IL1 dan kemokin yang akan menyebabkan inflamasi. Makrofag juga memproduksi IL12 yang akan memperkuat respon dari TH1. Semua mekanisme tersebut akan mengaktivasi makrofag untuk mengeliminasi antigen. Jika aktivasi tersebut berlangsung secara terus menerus maka inflamasi kan berlanjut dan jaringan yang luka akan menjadi semakin luas.

TH17 diaktivasi oleh beberapa antigen mikrobial dan bisa juga oleh self-antigen dalam penyakit autoimun. Sel TH17 akan mensekresikan IL17, IL22, kemokin, dan beberapa sitokin lain. Kemokin ini akan merekrut neutrofil dan monosit yang akan berlanjut menjadi proses inflamasi. TH17 juga memproduksi IL12 yang akan memperkuat proses Th17 sendiri.

Reaksi sel T CD8+ sel T CD8+ akan membunuh sel yang membawa antigen. Kerusakan jaringan oleh CTLs merupakan komponen penting dari banyak penyakit yang dimediasi oleh sel T, sepert diabetes tipe I. CTLs langsung melawan histocompatibilitas dari antigen tersebut yang merupakan masalah utama dalam penolakan pencakokan. Mekanisme dari CTLs juga berperan penting untuk melawan infeksi virus. Pada infeksi virus, peptida virus akan memperlihatkan molekul MHC I dan kompleks yang akan diketahui oleh TCR dari sel T CD8+. Pembunuhan sel yang telah terinfeksi akan berakibat eliminasinya infeksi tersebut dan juga akan berakibat pada kerusakan sel.

Prinsip mekanisme pembunuhan sel yang  terinfeksi yang dimediasi oleh sel T melibatkan perforins dan granzymes yang merupakan granula seperti lisosom dari CTLs. CTLs yang mengenali sel target akan mensekresikan kompleks yang berisikan perforin , granzymes, dan protein yang disebut serglycin yang dimana akan masuk ke sel target dengan endositosis. Di dalam sitoplasma sel target perforin memfasilitasi pengeluaran granzymes dari kompleks. Granzymes adalah enzim protease yang memecah dan mengaktivasi caspase, yang akan menginduksi apoptosis dari sel target. Pengaktivasian CTLs juga mengekspresikan Fas Ligand, molekul yang homolog denga TNF, yang dapat berikatan dengan Fas expressed pada sel target dan memicu apoptosis.

Sel T CD8+ juga memproduksi sitokin (IFN-γ) yang terlibat dalam reaksi inflamasi dalam DTH, khususnya terhadap infeksi virus dan terekspos oleh beberapa agen kontak.

Daftar pustaka

1. Robbins and Cotran. 2004. Phatologic Basis of Disease 8th edition. Bab 6 Disease of the imune system. Pg 197-208. SAUNDERS ELSEVIER: China

2. Abdul K Abbas, MBBS. 2004. Basic Immunology 2nd edition. Hypersensitivity Disease. Pg 193-208. SAUNDERS: China

3. NCBI. Immunobiology. Allergy and Hypersensitivity.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/bookshelf/br.fcgi?book=imm&part=A1719 [03Nov’10; 21:00]

4. Miriam K Anand, MD, FAAAAI, FACAAI. 2010. Hypersensitivity reaction immediate.http://emedicine.medscape.com/article/136217-overview [03Nov’10; 21:00]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.